Jurnal Pribados

8 October 2014

3S dari Gunung Prau

Cobalah mendaki Prau saat weekend atau libur panjang, dijamin tak akan menemukan kesunyian di puncaknya. Kalau tujuanmu mendaki gunung adalah mencari ketenangan, jangan membuat tenda di campsite. Di akhir pekan campsite Prau tak ada bedanya dengan pos Kandang Badak di Gede atau Pondok Saladah di Papandayan. BISING. Teriakan-teriakan tak penting terdengar jelas, musik-musik berputar. Padahal bisa saja kebisingan itu mengganggu teriakan minta tolong yang sebenarnya. Sepertinya gunung dan hutan menunjukkan sifat alamiah manusia yang merupakan evolusi kera. kata Darwin

Camping di puncak Prau di malam sabtu. Saat sabtu dini hari tiba-tiba ada sekelompok pendaki yang mendatangi tenda kami dan bertanya apakah ada penyewaan tenda disini. What??? entah apa yang ada dipikirannya, mencari penyewaan tenda di puncak gunung. Rasa ingin menolong tiba-tiba lenyap melihat kebodohan mereka yang tidak membawa apapun untuk mendaki, tanpa sepatu, tanpa tenda, tanpa sleeping bag, tanpa raincoat. Sepertinya durasi pendakian yang tidak sampai 3 jam membuat mereka ingin tektok tanpa membawa perbekalan, tanpa tahu terjadi badai sejak sore yang membuat suhu menjadi sangat dingin dan angin tidak berhenti berhembus.

Melihat sifat pendaki yang bodoh seperti itu, tak heran rasanya Prau ditinggali banyak sampah. Dari tisu hingga botol berisi air seni ada disana. Padahal ada keindahan sunrise yang menanti di setiap pagi, ada savana yang menarik untuk dikunjungi.

Savana, Sumbing, Sindoro bisa kita nikmati di puncak Prau ini. Mungkin nanti  3S itu akan berubah menjadi SAMPAH STUPID SURVIVOR.

Sunrise, Sumbing, dan Sindoro ini tak perlu diberi sampah

Lonely Tree always beauty

No comments:

Post a comment

Was humbly designed and developed by MAKMALF.com. Written by Bayu Saputra Pribadi.