Jurnal Pribados

6 July 2021

Kursus Freediving AIDA 4 : Master Freediver

Sebelumnya gue nggak punya niat untuk melanjutkan freediving ke level yang lebih tinggi. Tapi setelah beberapa kali diskusi  dan dikasih motivasi oleh Yuuji (instruktur gue sebelumnya), akhirnya gue memutuskan untuk ambil course level master.  


Gue (dibantu Yuuji) menghubungi beberapa sekolah freediving yang menyediakan kursus level master ini, karena Yuuji belum bisa mengajar level master (Ayo, semangat naik level coach!!!). Akhirnya gue memutuskan untuk crossover ke AIDA. Di AIDA, level master ini equivalent dengan AIDA 4. 


Untuk equivalensi level antara Pure Apnea vs AIDA kurang lebih begini :

  • Discover Freediving   vs   AIDA 1 Introduction
  • Level 1 Freediver   vs    AIDA 2 Freediver         
  • Level 2 Advance Freediver   vs   AIDA 3 Advance Freediver 
  • Level 3 Master Freediver   vs   AIDA 4 Master Freediver

Masing-masing agency memperbolehkan untuk crossover dari agency lainnya dengan level yang setara, jadi untuk freediver yang level 1 nya pure apnea boleh melanjutkan level advancenya ke AIDA dan sebaliknya, dengan catatan pre-requisites sudah terpenuhi atau bisa juga instruktur meminta dilakukan crossover evaluation sebelum course dimulai.

Gue ambil course ini di Let's Freedive dengan Instruktur Jason Hakim. Total course 4 hari, 2 hari untuk sesi teori, confined water & 16m deep pool, 2 hari Open Water di Pulau Pramuka. Sesi teori dan deep pool dilakukan di Bulan Januari 2021, sedangkan Open Waternya di bulan Mei 2021 (seharusnya di bulan April, tapi gue berhalangan).

Pada sesi teori, materi yang diajarkan adalah failure depth, penyelaman exhalasi (FRC), mouthfill, packing, resiko yang ditimbulkan pada kegiatan menyelam dan cara menghindarinya, serta pengetahuan tentang fitness dan nutrisi yang menunjang kegiatan freediving. Diajarkan pula tentang stretching untuk kebutuhan freediving, di level 2 gue udah dapet materi lung stretching, disini gue diajarkan tentang beberapa teknik stretching yang berbeda.


Teknik-teknik yang baru diajarkan di sesi teori seperti mouthfil dan FRC, gue praktekkan di kolam 16m. Requirement yang dibutuhkan di sesi confined water juga berhasil gue selesaikan seperti static minimal 3 menit 30 detik dan dynamic bifins 75 m, dynamic 50 m + rescue + towing.


Pada sesi open water, gue mempraktekkan beberapa teknik yang sudah dilatih di deep pool sebelumnya. Disini juga pertama kalinya gue melakukan Variable Weight ke kedalaman sekitar 28m, itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Ada 2 bagian course yang membuat gue lumayan kewalahan, yaitu melepas mask dan fins di kedalaman sekitar 20m + melakukan ascend hanya dengan menggunakan tangan, dan rescue. Ada 2 macam rescue yaitu rescue menggunakan 1 fins ke kedalaman 16 m dan rescue dari kedalaman 20m dilanjutkan dengan towing. Oh iya, gue juga belajar tali temali untuk keperluan open water.


Open Water hari kedua adalah waktunya perform CWT. Unfortunately kondisi laut tidak sesuai harapan. Arus kencang dan visibility sangat terbatas. Butuh sekitar 3 jam untuk menemukan spot yang memenuhi kriteria. Pada saat itu gue merasa sudah down secara mental, kondisi fisik yang menurun setelah 3 jam terombang-ambing mencari spot, dan pengalaman open mask + rescue di hari pertama yang cukup menguras energi serta rasa tidak nyamannya masih terasa sampai hari kedua. Saat menemukan spot yang cukup lumayan, gue melakukan pemanasan dengan 2 kali Free Immersion kemudian perform untuk attempt depth CWT. Pada saat relaksasi sebelum CWT, gue berusaha melepaskan semua kekhawatiran dan mencoba untuk serileks mungkin. Lalu gue melakukan CWT ditemani Jeje (Jason), tapi gagal mencapai bottom plate. Jeje memotivasi gue dan memberikan advice bahwa tinggal 1 requirement CWT ini yang gue butuhkan untuk menyelesaikan course. 


Kemudian gue melakukan relaksasi lagi untuk melakukan percobaan CWT ke 2. Yang ada di pikiran pada saat itu adalah berusaha melepaskan semua kekhawatiran dan yakin bahwa gue ditemani oleh instruktur berpengalaman saat attempt depth. Kemudian gue melakukan CWT, Di sekitar 24 m gue melakukan freefall. Sulit melakukan Freefall karena arus lumayan kencang dan membuat gue menjauh dari tali, sehingga harus curi-curi finning sedikit untuk menjaga badan tetap dekat dengan tali. Gue pakai lanyard, tapi karena arus yang lumayan kencang, jadi harus tetap finning untuk menjaga posisi. Voila! Gue melihat bola tenis di depan yang artinya inilah batas gue descent dan saatnya ascent ke permukaan untuk menyelesaikan penyelaman. Kondisi pada saat itu sudah tidak nyaman, gue terus finning untuk sampai ke permukaan sambil berharap tidak mengalami BO. Jason menemani gue ascending sambil memberi kode ke supaya gue tetap rileks. Saat merasa buoyancy sudah mulai positif, gue gradually mengurangi kecepatan finning untuk menghemat tenaga dan oksigen. Akhirnya berhasillah sampai permukaan, memegang buoy, recovery breath, lalu memberikan sign OK.


Begitulah pengalaman gue menjalani kursus AIDA 4, sejauh ini adalah course tersulit yang gue alami.


AIDA 4 atau Master Freediver ini sangat worthed untuk kalian yang sangat mengutamakan safety, berusaha menjaga orang lain pada sesi penyelaman, dan menchallenge diri untuk melakukan freediving di batas-batas maksimal kemampuan diri kita.


BTW, tidak ada foto pada sesi OW karena kondisi laut yang kurang bersahabat, dan juga karena fotografernya sedang menyelesaikan course AIDA 4 nya, bersama dengan gue :D. 

Note : Foto diambil oleh Dr. Benny

Hanging

Mempraktekkan FRC

Ascending




1 comment:

  1. keren, sudah lama pengin diving juga tapi belum kesampaian

    ReplyDelete

Was humbly designed and developed by MAKMALF.com. Written by Bayu Saputra Pribadi.